Produsen fashion pria asal Bandung, Cottonology melewati masa krisis pandemi pada tiga bulan pertama saat wabah tersebut dinyatakan masuk ke Indonesia. Meski industri fashion adalah salah satu yang terdampak virus corona, penjualan produk pakaian pria yang didirikan oleh Carolina Danella Laksono ini justru meningkat 60 persen.

Salah satu faktor yang mendorong peningkatan ini adalah peraturan Pembatasan Sosial Berskala Besar alias PSBB yang ditetapkan pemerintah untuk daerah-daerah yang termasuk zona merah dan kuning. Pemasaran daring yang mendominasi pertumbuhan bisnis Cottonology membuat masyarakat dari berbagai daerah, khususnya yang masih rawan dengan potensi penyebaran COVID-19, memilih untuk membeli produk pakaian untuk bekerja dan bersantai selama di rumah lewat e-commerce yang sudah populer di Indonesia.

“Celana boxer adalah salah satu produk yang cukup diminati saat wabah ini karena cocok dipakai di rumah, juga karena mayoritas bekerja dari rumah,” kata Carolina Danella Lakson dalam siaran resmi, Sabtu 20 Juli 2020.

“Bahan katunnya juga nyaman, karena banyak juga konsumen kami yang bekerja selama Work From Home sambil pegang laptop duduk di lantai, bukan di kursi. Mereka lebih suka pakai celana yang nyaman bahannya.”

Menurut lulusan University of California, Berkeley ini, kreativitas tanpa mengurangi kualitas dalam menciptakan produk-produk baru adalah strategi jitu untuk tetap bertahan selama masa suliti. “Walau kami tahu daya beli konsumen untuk produk busana menurun, namun kami tidak bertoleransi terhadap kualitas. Selain bahan katun pilihan, kami pun menggunakan zat pewarna khusus dari Jepang. Jadi kalau dicuci hingga 70 kali pun tidak akan luntur. Istilahnya, warna menjadi terkunci,” katanya.

Meski demikian, harga pun tetap terjangkau oleh semua kalangan. “Supaya semua lapisan bisa membelinya sehingga kami terus berproduksi. Dampak ekonominya, Cottonology di masa pandemi ini bisa menyerap tambahan tenaga kerja baru di bagian produksi di atas 5 persen. Ini cukup signifikan dalam menggerakan sektor mikro di Bandung.”

Untuk terus bisa menambah jumlah tenaga kerja yang mayoritas berasal dari masyarakat sekitar Bandung, Cottonology pun meluncurkan item-item baru selama wabah virus corona Dia mengatakan, tenaga kerjanya bukan sekadar di bagian produksi seperti menjahit dan menenun, tapi juga bagian merancang desain. “Misalnya kemeja, kenapa menjadi salah satu produk terlaris kami, karena desainnya yang memang mengikuti tren pasar dengan menggunakan teknik tenun, bukan cetak, jadi corak luar dan dalam bajunya sama. Ada tiga orang tim desainer lulusan teknologi tekstil di Cottonology, dan mereka mahir mengoperasikan mesin-mesin berteknologi Jerman dan Jepang yang kami miliki.”

Ia menambahkan, Cottonology akan terus membutuhkan desainer baru demi memenuhi permintaan pasar yang semakin bertambah. “Saat ini kami juga merilis parfum Cottonology Ocean Blue. Bagi kami, fesyen itu tidak saja tentang apa yang kita lihat, tapi juga apa yang kita rasa. Kalau indah di mata namun tidak nyaman untuk dihirup, maka filosofi fashion itu tidak tercapai. Sebab bagi kami, fashion adalah aktualisasi diri secara utuh, bukan sekedar mata saja.”

Cottonology adalah bagian dari PT GM Textile, perusahaan yang telah eksis di Indonesia lebih dari 60 tahun dengan fokus pada produksi kain tenun. Saat ini Cottonology telah menjual lebih dari 400 ribu item pakaian pria di seluruh Indonesia. Dalam proses produksi, UKM ini melibatkan penjahit lokal di sekitar Bandung yang terdiri dari perajin rumahan, individu, atau lepasan.