Kemeja putih telah lama menjadi sepotong pakaian yang menjadi pusat banyak momen signifikan di dunia mode, baik di dunia film dan sejarah budaya, namun kemeja putih nyatanya memiliki masa lalu yang cukup kelam.

Momen pertama kali kemeja putih muncul di spotlight tren mode untuk wanita terjadi pada abad ke-18, ketika Marie Antoinette mengenakan gaun bernama robe de gaulle dari bahan katun yang terlihat di sebuah potret dirinya di tahun 1783, yang kemudian menimbulkan skandal pada saat itu.

Di potret yang dilukis oleh Madame Vigée-Lebrun, sang ratu ditampilkan mengenakan gaun blus berwarna putih dengan siluet longgar dan sedikit perhiasan, yang mana potret tersebut tampak sangat berbeda dan terlalu sederhana untuk ukuran ansambel yang biasa dilukis di era tersebut.

Keputusan sang ratu untuk berpose dengan gaun yang pada saat itu dapat dikatakan sebagai ‘gaun dalaman’ langsung menimbulkan kontroversi, sekaligus bahan katun yang terkandung di gaun tersebut juga dinilai sebagai bahan murahan dibandingkan dengan material tekstil sutra terbaik yang biasa ia kenakan sebagai seorang bangsawan.

Banyak pakar sejarah menuliskan pengaruh besar yang disebabkan oleh potret Marie Antoinette tersebut di industri tekstil, potret tersebut seketika semakin menggugah industri bisnis bahan katun dan meningkatkan perbudakan yang terjadi pada masa kejayaannya dan sepeninggalan dirinya.

Pengaruh besar seorang bangsawan seperti Marie Antoinette kepada dunia ternyata cukup ekstrim, keputusan dirinya mengenakan blus putih dari bahan katun berabad-abad lalu termasuk suatu momen yang mempengaruhi eksistensi kemeja putih sebagai busana dominan yang ada di dalam lemari setiap orang saat ini.

Namun, hal itu juga cukup jelas betapa momen fashion yang ditimbulkan Marie Antoinette pada saat itu menciptakan konsekuensi yang membahayakan.

“Marie Antoinette dan para pencipta tren mode di zamannya membuat material katun menjadi suatu kain yang diinginkan oleh semua orang,” ungkap Caroline London kepada Racked ketika mengulik lebih dalam momen historikal ini. “Teknologi dan perbudakan membuat katun menjadi lebih terjangkau. Semakin terjangkau, membuat katun semakin diminati, dan memiliki peningkatan permintaan, yang akhirnya mengarah ke produksi massal dan harga jual semakin murah.”

“Siklus itu kemudian menciptakan predikat ‘King Cotton’ dan institusi untuk perbudakan yang mendominasi wilayah Selatan. Hal itu dikarenakan sebuah gaun simpel yang dikenakan sang Ratu dan seketika menimbulkan kosekuensi yang tak pernah terpikirkan oleh sang ratu ketika ia melepas atribut busana mewahnya.”

Setelah fenomena tersebut, pengaruh Marie Antoinette di industri material katun seketika mentransformasikan industri tersebut, tetapi kemeja putih pada saat itu tetap hanya dikenakan oleh para pria hingga ke abad 20, dan selama banyak dekade menjadi simbol status soial untuk para pria kaya. Para pria yang tidak melakukan pekerjaan kasar (yang mana dapat menyebabkan noda pada kemeja putih) dan pria yang bisa mencuci pakaian mereka secara teratur. Namun, pada tahun 1920-an, para desainer seperti Coco Chanel dengan sukses melakukan evolusi terhadap peraturan gender dan batasan antar kelas dengan merancang busana yang lebih rileks dan kontemporer untuk para wanita. Pada saat itu, Coco dengan berani merubah wanita yang biasa mengenakan rok berpindah hati ke celana dan merancang korset untuk kemeja laki-laki, yang kemudian semakin membawa kemeja putih ke ranah busana wanita.

Pada tahun 1940, kemeja putih semakin menjadi daya tarik, terima kasih kepada para wanita berpengaruh yang mempopulerkannya seperti Katharine Hepburn, Ava Gardner, Marlene Dietrich dan Lauren Bacall.

Setelah berabad-abad kemudian, kemeja putih juga sering kali terlihat di beberapa momen film populer, seperti Holiday dan Key Largo bahkan di sebuah film yang menampilkan kostum terikonis Audrey Hepburn, yang mana ia mengenakan kemeja putih yang digulung dengan detail kerah kemeja yang menyembul jelas di film Roman Holiday bersama aktor Gregory Peck.

Selama dekade ini, kemeja putih yang biasanya diinisiasikan untuk koleksi busana pria, akhirnya diasosiasikan juga dengan feminitas. Kemeja putih menjadi sering dipadankan dengan ikat pinggang, tidak pernah dikenakan dengan kancing yang menutupi kerah, dan dimasukkan ke dalam rok, lalu dikomplementasikan dengan scarf sutra yang diikatkan di sekitar area leher.

Setelah itu, baru muncul fenomena androgini yang diekspresikan oleh Patti Smith (ia gemar memadukan kemeja putih dengan dasi ramping); Diane Keaton; Kim Basinger (kemeja putih oversized di film 9 and A Half Weeks); dan Uma Thurman yang mengenakan kemeja dengan kancing sampai ke leher bersama celana panjang hitam tailored di Pulp Fiction. Kemeja putih juga muncul dikenakan bersama dengan gaun di film Pretty Woman, diikatkan di pinggang seperti di Dirty Dancing atau dikenakan tanpa apapun sama sekali oleh Angelina Jolie di film Mr and Mrs Smith.

Di atas panggung runway, kemunculan kemeja putih tampak semakin signifikan di Nineties and Noughties, di mana gaya minimalis mendominasi koleksi label DKNY dan Calvin Klein, lalu menjadi key piece untuk Jil Sander dan Phoebe Philo di Celine dan semakin mendominasi hingga ke dekade selanjutnya.

Kemeja putih pada saat itu juga tampak mendominasi gaya off duty dan bukan hanya di film dan panggung runway, sosok seperti Carolyn Basette Kennedy menjadikan kemeja putih yang rileks sebagai busana wajib, kemudian saat ini, Meghan, Duchess of Sussex juga menjadikan kemeja putih sebagai elemen wajib di ansambelnya, ia bahkan mengenakannya untuk penampilan pertamanya bersama Pangeran Harry dan dengan konsisten mengenakannya selama masih menjadi member keluarga bangsawan Inggris. Sharon Stone bahkan mengalihkan atensi publik dengan mengenakan kemeja putih di atas karpet merah saat malam anugerah penghargaan Oscar 1998 (dengan memadankan kemeja GAP bersama rok rancangan Vera Wang), yang diikuti oleh Julia Roberts dan Emma Watson setelahnya. Kate Moss, Naomi Campbell, Marilyn Monroe, Putri Diana, Victoria Beckham, Rihanna, Zendaya, Amal Clooney, dan banyak lagi,

Kebisaan kemeja putih yang terus menerus mendominasi sebagai must have item di banyak dekade adalah bukti kalau kemeja putih memang tak lekang oleh waktu, tetapi apa yang sebenarnya membuat kemeja putih menjadi sangat spesial?

“Kami tidak pernah merasa bosan mengenakan kemeja putih karena dapat dipadankan dengan berbagai macam hal,” Heather Gramston, kepada divisi womenswear buying di Browns mengatakan. “Kemeja putih sangat cocok dikenakan bersama tuksedo, celana denim, rok, celana pendek, dan untuk kemeja oversized dapat dikenakan juga saat bersantai di rumah.”

Bagian dari daya tarik yang diciptakan kemeja putih jelas karena unsur versatility, yang mana Natalie Kingham, fashion and buying director di Matches Fashion juga mengatakan hal yang sama.

“Kemeja putih adalah benda wajib di fashion yang tak lekang waktu, mudah sekali dicampurkan dengan berbagai hal dan tak terbatas dikenakan dalam berbagai cara, yang artinya dapat dikenakan setiap tahun dan di musim apapun. Anda bisa mengenakan tailored shirt yang rapi dan secara instan tampak elegan dan tertata, atau bisa merekonstruksinya dengan detail tak biasa.”

Emma Willis, desainer yang memiliki label eponim yang berfokus di kemeja juga menyetujuinya, “Kemeja dengan potongan yang rapi dan dibuat dari bahan katun berkualitas atau bahan linen yang berstruktur akan tampak bagus dikenakan di segala kesempatan termasuk saat berurusan bisnis, smart casual atau untuk kegiatan kasual. Tak ada yang lebih baik dari celana denim, setelan jas, atau tampilan gaun malam.”

Tapi, dengan semua kebisaannya untuk dikenakan saat bekerja maupun di akhir pekan, siang ke malam, kemeja putih tetap populer di kalangan segala komunitas, tambah Willis.

“Kemeja putih dengan potongan yang sempurna, akan membingkai wajah, menjadikan bahu tampak tegas dan mengingatkan kepada banyak pria dan wanita ikonis selama 150 tahun lamanya.”

Dan, banyak cara, tak peduli betapa klasiknya model kemeja putih tersebut, akan tetap relevan dikenakan di dekade apapun.

“Musim apapun, kami terus melihat kemeja putih yang sudah di redefinisi dari panggung runway seperti Alaia, yang sudah terkenal dengan gaya ikonisnya,” ucap Gramston. “Kami juga melihat brand seperti Khaite yang mendesain kemeja dengan bentuk yang lebih rileks dan semakin melihat perubahan gaya lebih ke gaya minimalis yang terinspirasi dari busana pria seperti lansiran Totême.”

Untuk Tilly Wheating, editor mode, seluruh faktor di kemeja putih sudah ada.

“Untuk saya, kemeja putih adalah benda wajib di setiap lemari dikarenakan versatility yang ada. Kemeja ini cocok untuk semua orang dan hadir dalam versi yang sangat variatif. Bahan katun kaku, linen, sutra, lengan puff, kerah dramatis, Anda dapat mengenakannya dalam berbagai cara. Mengenakan pakaian kasual, dress up, dengan celana panjang atau rok high waisted, dimasukkan ke dalam atau bahkan dikenakan secara tumpuk bersama gaun.”

Untuk Anda yang merasa butuh menambahkan kemeja putih ke dalam koleksi busana Anda, berikut beberapa faktor yang dapat dipertimbangkan sebelum membeli.

“Saya akan memikirkan fit di kemeja sebagai prioritas memilih,” ucap Kingham. “Apakah Anda menyukai fit yang lebih rileks? Jika ya, saya menyarankan Anda membeli kemeja putih katun dari Raey, brand dengan format minimal dan gaya oversized cocok sekali untuk penampilan santai. Bagaimana pun, jika Anda lebih memilih kemeja dengan potongan berstruktur Emma Willis adalah tujuan saya, kemeja rancangan mereka dibuat menggunakan teknik tradisional dari abad ke-18 dan menawarkan gaya seimbang dan praktikal.”

“Pikirkan juga bahan yang terkandung, lebih baik memiliki bahan mewah yang akan awet di dalam lemari, pilih kemeja putih rancangan Ssone yang menggunakan bahan natural, Another Tomorrow dan Too Good juga memiliki material yang berkualitas tinggi.”

Gramston juga menyarankan untuk menjadikan fit dan material sebagai prioritas, ” Saya akan memilih kemeja oversized dan memilih bahan katun berkualitas dari brand seperti Jil Sander yang dapat saya kenakan dalam berbagai gaya.”

Apapun gaya yang Anda pilih, tak perlu khawatir karena kemeja putih dapat dipadankan tanpa peduli batasan, di hari ini maupun hingga 50 tahun nanti.